Merdeka Jadi Diri Sendiri

‘Lengan cewek tuh kayak gitu dong Lin..’ Kata salah satu teman laki-laki saya. Waktu itu kami habis latihan Aikido. Saya dan beberapa teman latihan mampir makan malam di kedai Ayam Bakar ‘G’ dekat Dojo.

Saat kami makan ada beberapa cewek imut pada zamannya duduk makan ga jauh dari meja kami. Gaya busananya seperti pegawai kantoran. Gaya dandannya seperti tipikal perempuan yang ‘dianggap’ cantik pada umumnya di masa itu mungkin juga sampai sekarang. Kulit putih, alis tinggi ala KD, rambut lurus panjang terurai, langsing dan..kecil lengannya.

Banyak perempuan masa itu yang merasa dirinya ga masuk kategori diatas lalu berlomba-lomba beli krim pemutih kulit, mencatok rambut, atau diet ga makan nasi supaya singset dan kecil lengannya. Masa itu juga marak keanggotaan Gym. Beberapa teman saya sempat beli keanggotaan Gym walaupun akhirnya hanya bertahan beberapa bulan saja.

‘Biar aja lengannya gede, yang penting perutnya kecil.’ Jawab saya waktu itu. Sebagai perempuan saya sebenarnya berusaha juga menjaga penampilan dengan beli krim pemutih yang ada SPF nya. Bukan ingin kulit wajah terlihat lebih putih, tapi karena harus panas-panasan naik turun angkutan kota saya merasa perlu pakai krim pelindung kulit. Kalau memang di dalamnya ada kandungan yang bikin kulit saya jadi lebih putih itu saya anggap bonus saja. Rambut saya kebetulan lurus, saya potong pendek supaya praktis dan ga ngalangin saat berlatih Aikido. Kebetulan juga walaupun makannya banyak perut saya termasuk kecil karena rajin latihan. Menurut saya masalah saya cuma di lengan, itu juga sebagai konsekuensi dari rajin latihan Aikido yang dominan tumpuan geraknya ada di lengan. Jadi saya ga menjadikan kriteria ‘cantik’ seperti anggapan orang kebanyakan saat itu sebagai suatu standar yang harus dipenuhi dan merasa ga fair aja kalau dianggap ga cantik karena ukuran lengan.

‘Don’t be an eye candy, be food for the soul.’ Ungkapan ini menarik dan jadi motto saya. Di kantor ada juga teman-teman yang rela datang lebih pagi supaya bisa dandan dan mencatok rambutnya supaya bisa tampil prima. Belanja pakaian dan barang-barang branded, walaupun nyicil yang penting penampilan dan ‘be an eye candy’. Saya ga merasa harus melakukan itu, ga juga melihat teman-teman saya itu sebelah mata. Terserah mereka aja, tapi saya lebih tertarik untuk ‘be food for the soul’ saya menganggap cantik itu adalah kalau kita merasa percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, punya karya-karya nyata yang dapat menginspirasi orang lain, dan dapat menjadi manfaat bagi orang banyak. Punya pikiran dan hati yang bersih, positif dan iklas dalam menjalani hidup. Dari sana akan muncul perasaan puas dan bahagia kemudian terpancar keluar yang dikenal orang-orang sebagai ‘inner beauty’.

Sejalan dengan waktu dan jalan hidup yang saya alami saya mulai sadar kalau sebagai wanita harus juga rajin merawat diri. Bukan untuk orang lain tapi dalam rangka menghargai diri sendiri dan membuat diri sendiri merasa lebih baik. Belajar bagaimana berpenampilan yang baik, cara membawa diri dalam pergaulan, cara menghargai orang lain, meningkatkan pengetahuan dan wawasan sambil terus berkarya.

Banyak wanita-wanita hebat yang menginspirasi di sekitar. Apalagi dengan adanya sosial media, menyenangkan melihat orang-orang yang berani berekspresi, jadi dirinya sendiri, bahagia dengan peran dan pencapaiannya sebesar apapun itu, dapat memberi manfaat bagi orang lain dan tetap terlihat cantik dan menarik. Pada akhirnya sebagai wanita saya terinspirasi untuk terus belajar mengekspresikan diri lebih baik tanpa harus kehilangan jati diri, merasa merdeka dan setuju dengan ungkapan ‘Don’t be just an eye candy or be food for the soul..be both.’

EM/Lifestyle

Iklan

Into The Unknown (Bagian 3 – Tamat)

Di dalam toko kami disambut seorang petugas berseragam T-Shirt warna Krem. ‘Silakan..’ katanya ramah.

Petugas Olive Store

Di sisi sebelah kanan dekat pintu masuk toko ada tempat untuk anak-anak beraktifitas mewarnai. Tersedia bangku dan meja disekitarnya mungkin supaya orang tua yang mendampingi anak-anak nyaman dan leluasa mengawasi.

Children Playground

Toko cinderamata Olive Store cukup luas. Suasana tokonya tenang dan nyaman, koleksinya pun unik & beragam. Ada tanaman hias, tas, payung, t-shirt dan pernak-pernik lainnya. Sebagai kenang2an saya beli pin lucu bentuk tanaman favorit saya Monstera.

Berbagai macam pin lucu bentuk tanaman koleksi Kebun Raya Bogor
Bangku rotan dekat Children Playground

Sambil menunggu petugas kasir memproses pembayaran, Big Tea & Lil’Tea duduk minum sebentar di bangku rotan yang tersedia di dalam toko.

Kami lalu melanjutkan perjalanan. Banyak pengunjung melakukan Grounding atau Earthing tanpa alas kaki sambil menikmati keindahan dan suasana alam di Kebun Raya Bogor.

Grounding atau Earthing adalah teknik terapi dengan melakukan aktifitas terhubung ke bumi misalnya dengan berjalan dengan atau tanpa alas kaki di alam. Terapi Grounding selama kurang lebih 1 jam dapat memberi dampak positif bagi tubuh seperti meningkatkan sistem imun, menimbulkan ketenangan batin, memperbaiki mood, meredakan nyeri otot, baik bagi kesehatan jantung, meredakan kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur.

Selain berjalan tanpa alas kaki ada berbagai cara alami untuk grounding misalnya dengan berbaring diatas matras tipis atau tanpa alas & beraktifitas di air (Sumber : sehatq.com)

Kebun Raya Bogor dapat menjadi tempat menyenangkan untuk melakukan terapi ini. Sambil menikmati suasana alam & udara segar Big Tea & Lil’ Tea ikut juga jalan kaki sambil buka sepatu seperti pengunjung lain. Jalan yang lembab mengurangi rasa pegal di kaki.

Berjalan tanpa alas kaki salah satu teknik Grounding

Sampailah kami di papan penunjuk jalan menuju Taman Meksiko. Taman Meksiko berisi koleksi tanaman iklim kering seperti Kaktus. Sebagian besar koleksi Taman Meksiko didatangkan dari Amerika Tengah dan Selatan.

Papan penunjuk jalan menuju Taman Meksiko

Dari papan penunjuk jalan menuju Taman Meksiko kami berjalan kaki kira-kira 5 menit. Dari arah belakang terdengar bunyi seperti motor ternyata ada beberapa wisatawan yang menggunakan Scooter listrik menuju ke Taman Meksiko. Memang berjalan kaki di area Kebun Raya yang luas cukup melelahkan. Kalau ga mau capek, sebelum mengelilingi Kebun Raya lebih baik menyewa Scooter Listrik atau Sepeda untuk perorangan sedangkan rombongan keluarga dapat menyewa Buggy.

Taman Meksiko dibuat menyerupai aslinya yang kering dan berbatu. Taman ini unik karena suasananya sangat kontras dengan tumbuhan diluar area taman yang didominasi koleksi tanaman tropis. Banyak spot-spot foto menarik disini. Kami melihat beberapa kelompok wisatawan berfoto-foto di Taman ini.

Pemandangan kanan dan kiri jalan menuju Taman Meksiko

Tidak jauh dari Taman Meksiko kami menuruni tangga menuju jembatan gantung berwarna merah. Tadinya tidak ada maksud kami mencari Jembatan Merah. Tapi demi mencari jalan pintas menuju Bunga Rafflesia akhirnya kami memutuskan untuk melalui jembatan itu.

Jembatan Merah membentang melintasi Kali Ciliwung & hanya dapat dilalui 1 orang. Sebelum menyeberang kami harus menunggu orang dari seberang melintas. Dari kejauhan kelihatan kendaraan di jalan besar bergerak perlahan. Sepertinya mulai macet.

Jembatan Merah Kebun Raya Bogor

Diujung jembatan ada jalan setapak menembus pohon2 besar. Tampak dari kejauhan sebuah plang dengan tulisan besar ‘Makam Keramat’. Seperti di film2 perang saya meminta anak2 berhenti. Saya termasuk kebanyakan orang yang sedikit khawatir lewat ‘Makam Keramat’..takut pulangnya ada yang ‘ngikut’ 🤭.

Tampak Luar Makam Keramat Kebun Raya Bogor

Saya mengarahkan kamera handphone ke arah plang besar. Lewat kamera zoom terbaca siapa yang dimakamkan di dalam makam keramat itu. ‘Wow karuhun (leluhur)..’ kata saya dalam hati. Memang tampak luar saya ‘Korean Style’ tapi di dalam diri saya mengalir darah Sunda dari keluarga Papa. Asal Mama dari Sulawesi Utara, mungkin karena suku campuran itu mengapa saya agak cuek masalah silsilah keluarga. Mungkin sudah waktunya saya lebih kenal karuhun sehingga kami diarahkan melalui jalur ini.

‘Permisi..Assalamualaikum..’ kami masuk ke dalam area makam. Ada seorang penjaga sedang duduk sambil merokok di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu.

‘Mau doa?’ tanya penjaga makam.

‘Ga Pak, mau lihat-lihat aja boleh?’ Jawab saya.

‘Boleh’ kata penjaga makam lalu berdiri dari kursinya dan menjelaskan sedikit tentang sejarah makam.

‘Ma..aku kok agak serem-serem gitu ya’ kata Lil’Tea. Memang saya juga sedikit merinding waktu kami ngobrol2 dengan penjaga makam.

Sebenarnya secara umum suasana di dalam makam tidak seram. Terasa sejuk & tenang..adem. Makam dibagian tengah dipercaya sebagai makam Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi. Menurut penjelasan penjaga makam adalah istri ke-2 Prabu Siliwangi. Makam diatas makam Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi adalah makam Mbah Jepra sebagai panglima kerajaan dan dibagian bawah adalah makam Mbah Baul sebagai patih kerajaan. Ada satu makam lagi yaitu makam Solendang Galuh Pangkuan. Kurang jelas bagaimana hubungannya dengan makam2 lainnya yang ada dalam kompleks makam keramat. Setelah pulang saya masih penasaran tentang Makam Keramat dan mencari lewat internet. Ada penjelasan lain yang cukup jelas & menarik dari triplenine101.blogspot.com tentang makam keramat Kebun Raya Bogor.

‘Bapak keturunan Prabu Siliwangi?’ tanya saya kepada penjaga makam.

‘Saya hanya dipercaya menjaga & merawat makam. Mengenai keturunan, bukannya (secara tidak langsung) kita semua (warga Jawa Barat) adalah keturunan Prabu Siliwangi.’ Jawab Bapak penjaga makam menutup perbincangan. Saya mangut2 menangkap sisi lain dari jawaban itu. Setuju Pak, banyak orang tanpa gelar ningrat tapi punya ‘jiwa ningrat’. Buat apa bergelar ningrat kalau perkataan & perilakunya ga mencerminkan gelar itu.

Setelah melihat-lihat kompleks makam sebentar kami lalu pamit melanjutkan perjalanan mencari lokasi Bunga Rafflesia.

Kira-kira 15 menit kami berjalan bersama dengan pengunjung lain tapi tidak ada tanda-tanda dimana Bunga Rafflesia berada sampai akhirnya di kejauhan ada sekelompok pengunjung berkerumun di depan pohon besar.

‘Disitu kali Ma.’ Kata Lil’Tea sambil menunjuk orang-orang yang sedang berfoto di depan pohon besar. Kami lalu mempercepat jalan.

Ternyata sesampainya disana bukan Bunga Rafflesia yang kami temukan tapi sepasang ‘Pohon Jodoh’. Kedua pohon ini sepintas terlihat kembar padahal berasal dari jenis yang berbeda. Pohon di sebelah kiri adalah Pohon Kenari sedangkan di sebelah kanan adalah pohon Beringin Putih.

Pohon Jodoh Kebun Raya Bogor

Disebut ‘Pohon Jodoh’ juga tidak lepas dari mitos yang mengatakan bahwa pasangan yang bertemu di bawah pohon jodoh akan langgeng hubungannya.

Kami menghabiskan waktu beberapa lama dibawah pohon jodoh sambil memutuskan apakah akan lanjut dengan pencarian lokasi Bunga Rafflesia atau tidak mengingat sebentar lagi waktu kami check out dari hotel

Tes..tes..tes..hujan gerimis mulai turun. Ternyata alam memutuskan kami untuk segera pulang. Kami lalu berjalan cepat-cepat menuju pintu keluar. Mungkin belum waktunya menemukan lokasi Bunga Rafflesia di perjalanan kali ini. Sepertinya menyenangkan kalau pada kesempatan berikutnya kami kembali ke Kebun Raya Bogor untuk melanjutkan petualangan. (Tamat)

EM/Traveling

Be The Energy You Want To Attract

Teman saya perempuan usianya sudah kepala 4 tahun ini berencana mudik Lebaran. Maklum sudah 2 tahun ga pulang karena Pandemi Covid-19. Bersyukur tahun ini Pandemi mereda dan pemerintah membuka pintu bagi masyarakat untuk cuti bersama dan mudik Lebaran.

Meeting

Dibalik rasa bahagia akan bertemu keluarganya, teman saya yang biasanya ceria galau karena belum punya pasangan.

Ia lalu mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kerabat & keluarga saat silaturahmi nanti yang menurutnya ‘brutal!’ :

‘Udah punya pacar belum?.’

‘Kapan nikah?’

‘Kapan undangannya?.’

‘Lah pacar aja belum punya mau ngirim undangan apa Tantee..’ Teman saya emosi jiwa waktu cerita tentang adik mamanya yang kepo.

Pilih-pilih pasangan wajar dong..namanya juga untuk seumur hidup. Siapa sih yang mau menghabiskan sisa hidup dengan orang yang ‘salah’. Yang ada bukannya bahagia, malah menderita.

Sebenarnya cukup banyak yang suka dengan teman saya ini. Dia cantik, pintar dan pandai bergaul, punya pekerjaan yang baik juga tapi entah kenapa hubungannya tidak pernah bertahan lama.

‘Ada cowok yang gue taksir.. single, pintar & mapan. Ganteng sih relatif ya, buat gue yang penting berkharisma..Sayang dia ga suka sama gue 😄.’

‘Ada yang ganteng, naksir gue tapi ternyata orangnya egois, posesif, ga dewasa. Lama-lama jadinya malah nyebelin dan ganggu. Apa-apa emosi dulu yang maju. Padahal gue berharap calon suami gue sabar & sholeh, bisa jadi imam yang baik dalam keluarga.’ Kata teman saya lagi.

‘Bukan masalah penampilan juga..tapi kalau dia jarang mandi kan lama-lama gue jadi ‘ilfeel!’. Udah gue dimanfaatin eh abis itu di PHP in!.’ (PHP : Pemberi Harapan Palsu / Putus Hubungan Percintaan). Teman saya melanjutkan berapi-api layaknya juru kampanye.

‘Emang udah siap nikah?’ Tanya saya.

‘Yaa..siap ga siap sih. Kalau ada yang cocok masa iya gue ga mau..secara gue udah kepala 4 dan keluarga nanyain mulu.’

Berbeda hal nya dengan teman saya laki-laki. Sudah cukup matang dilihat dari usia dan mapan dalam berkarir. Punya karakter dan berkarisma. Dia juga taat beragama. Tidak ada yang salah kelihatannya dengan teman saya ini. Banyak juga yang naksir Dia, tapi alasan kenapa belum menikah ternyata teman saya punya pandangan lain.

‘Nikah bukan prioritas buat gue Lin.’ Kata teman saya menjawab pertanyaan.

‘Prioritas gue sekarang jagain nyokap. Memang kadang pulang ke rumah rasanya menyenangkan kalau ada pasangan. Tapi sejauh ini I’m happy with my life. Kalaupun nanti ketemu jodoh, maunya orang itu sudah ada di tahap merasa dirinya ‘lengkap’ supaya hubungan kita bisa saling membangun satu sama lain. Bukan nikah dengan alasan perbaikan ekonomi, pengen punya keturunan atau karena tuntutan keluarga.’

‘Kalaupun ternyata gue dan pasangan ga bisa berketurunan. Kita bisa angkat anak. Di luar sana banyak anak-anak yang ga punya orang tua dan membutuhkan kasih sayang.’

Sebagai High Quality Jomblo ternyata teman saya ini pilih-pilih juga. Memang cara pandangnya menurut saya sedikit berbeda dengan cara pandang kebanyakan orang Indonesia. Tapi ternyata cara pandang itu ada di kalangan High Quality Jomlo. Mereka punya tujuan supaya pernikahannya nanti dapat meningkatkan kualitas dirinya dan pasangan ketahap yang lebih tinggi dan memberi lebih banyak manfaat bagi kehidupan pribadi dan sekitar. Tidak sekadar memenuhi harapan orang tua & lingkungan. Itu yang membuatnya tidak sembarangan memilih pasangan hidup.

Saya jadi ingat pernah baca sebuah artikel tentang ‘Law of Attraction’ sebuah pemahaman yang meyakini bahwa pikiran, dan perilaku positif akan menarik hal-hal positif dalam kehidupan seseorang, begitu juga sebaliknya.

Dengan kata lain untuk menarik sesuatu yang baik, seperti misalnya jodoh, pekerjaan, teman-teman dan lain sebagainya sesuai harapan. Kita harus terlebih dulu melatih diri untuk memiliki kualitas seperti harapan yang diidam-idamkan itu. Mulailah dengan niat baik untuk lebih menghargai dan mencintai diri sendiri. Hal itu akan mendorong kita berbuat sesuatu untuk merawat diri dan memperbaiki diri dengan merubah pola pikir dan perilaku menjadi lebih baik.

Seperti magnet seseorang atau sesuatu yang baik akan tertarik dan mendekat karena ada persamaan kebaikan yang terpancar dari diri kita. Begitu juga sebaliknya pola pikir dan perilaku negatif akan menarik hal-hal dan orang-orang yang negatif juga.

Lipstik warna natural berkesan matte namun tetap creamy & melembabkan bibir karena mengandung Shea Butter

‘Iya sih memang gue masih banyak PR nya. Teman perempuan saya melanjutkan pembicaraan pada suatu waktu. Gue masih suka boros dan ga sabaran..gue juga malas merawat diri 🤭’ Katanya curcol.

‘Sekarang coba upgrade penampilan dan merawat diri dong ganti gaya kekanak-kanakan lu itu supaya kelihatan lebih dewasa. Banyak-banyak buka artikel fashion buat tambahan referensi siapa tahu dapat inspirasi untuk tampil lebih segar dan stylish sesuai umur dan jati diri.’

‘Perbaiki perilaku supaya lebih sabar dan ga egois. Upgrade pergaulan juga supaya lebih banyak kenalan dan tambah wawasan biar ga malu-maluin nanti diajak pasangan mapan idaman ketemu koleganya.’

‘Belajar masak, atau kegemaran lain yang membuat bangga dan dapat menunjang kehidupan berumah tangga. Olahraga supaya tambah fit. Orang-orang yang mencintai dirinya dan punya keahlian akan sesuatu akan terlihat lebih percaya diri dan menarik loh.’

‘Ikut juga komunitas hobby atau aktif di kegiatan keagamaan. Katanya mau berjodoh dengan yang sholeh’. Kata saya ngomporin.

‘Ih mau bangeet’ Jawab teman saya.

‘Terus apa lagi?’ Tanya teman saya seperti sedang konsultasi biro jodoh.

Buat bulu mata terlihat lebih panjang dan tebal. Sikat fleksibelnya bikin maskara ga menggumpal dan merata saat dipakai. Waterproof 😍

‘Yaa..banyak-banyak berdoa supaya diberi kemudahan. Jodoh kan ditangan Tuhan. Siapa orangnya dan kapan datangnya udah diatur. Yang penting usaha, ga diem-diem aja.’ Kata saya menyudahi pembicaraan. Sudah waktunya jemput anak sekolah.

EM/Lifestyle

Into The Unknown (bagian 2)

Kami memutuskan untuk turun dari tangga sebelah kanan lalu belok ke kiri. Menyusuri jalan setapak dan melewati pohon besar dengan empat buah tiang dan rangka besi berbentuk persegi dibagian atasnya. Kalau ada bunga2 menjuntai sebagai atapnya pasti bisa jadi tempat foto yang Intagramable.

Pohon besar dengan rangka besi persegi di bawahnya

Sekitar 5m ke arah kiri melalui jalan aspal adalah lokasi pintu masuk kendaraan bermotor dan Titik Temu. Lil’ Tea lari2 kecil menuju peta Kebun Raya Bogor yang ada dibawah tulisan ‘Titik Temu’.
‘Kita kesini aja Ma’..katanya sambil menunjuk gambar Bunga Rafflesia. ‘Aku pernah lihat di Youtube, bau banget pasti, yuk kita cari!’.

Peta Kebun Raya Bogor

Ada beberapa rute yang dapat dipilih di Kebun Raya. Sebagai jalur awal kami memilih rute pendek untuk melihat Istana Bogor, Bunga Teratai Raksasa, Air Mancur, lalu melalui jalan setapak ke arah taman tempat Tugu Teysmann. Tugu ini didedikasikan bagi Johannes Elias Teijsman, seorang yang berjasa dalam pengelompokan tanaman di area Kebun Raya Bogor dan pengembangan Kebun Raya Bogor.

Tempat sewa sepeda

Di jalan masuk menuju Kolam Teratai Raksasa ada tempat parkir Golf Car (Buggy) 6 seat yang dapat disewa. Jalan sedikit di sebelah kanan kami melihat ada tempat penyewaan sepeda.

Kolam Teratai Raksasa
Istana Bogor terlihat dari arah Kolam Teratai Raksasa
Taman & Tugu Teysmann

Dari Taman Teysmann kami menyusuri jalan setapak kembali ke jalan utama. Terdengar suara musik bambu yang menyejukkan dari kejauhan. Sesampainya di area pemusik bambu Kakak sibuk bikin video sampai enggan pergi dari situ.

Pemusik Bambu

Sambil menunggu Kakak bikin video. Saya dan Lil’ Tea melihat-lihat sekitar. Di seberang pemusik ada tangga keatas dengan tulisan besar ‘Glow’. Letak loket penyewaan transportasi Kebun Raya ada di bagian atas tangga Glow :
Buggy 6 seat Rp.125.000 / 30 menit
Sepeda Rp.25.000,- / 30 menit
Skuter Listrik Rp. 30.000,- / 30 menit.

Glow dulunya disiapkan untuk wisata malam. Pengunjung dapat menikmati suasana Kebun Raya di malam hari lengkap dengan lampu2, tapi karena banyak penolakan akhirnya obyek wisata baru di dalam kebun raya ini tidak lanjut.

Sempat terlintas dalam pikiran saya kalau dibuatkan video tentang suasana malam di Kebun Raya untuk dilihat pengunjung pada siang hari dengan membeli tiket terpisah sepertinya menarik juga.

Olive Store

Tidak jauh dari lokasi pemusik bambu ada kafe dan toko cinderamata namanya ‘Olive Store’ Kami masuk ke dalam toko…

Bersambung (Bagian 3)

Into The Unknown

Kriing..alarm jam berbunyi pukul 7.30 pagi. Kakak sudah bangun sementara Lil’Tea masih tidur. Semalam kami tidur lebih malam. Kebetulan mama ada event UMKM di Botani Square Mall bersama komunitasnya di Bogor. Selama pandemi Covid-19 kami sama sekali ga keluar kota. Kali ini Big Tea & Lil’Tea ikut karena kami sudah divaksin, Covid mereda & penasaran mau jalan-jalan ke Kebun Raya.

Tugu Kujang, Bogor


Kami menginap di IPB Hotel Botani Square. Hotel ini dekat dengan mal tempat mama berkegiatan. Dari Hotel kelihatan Tugu Kujang & Kebun Raya Bogor ada di seberang.


Setelah sarapan di Hotel, kami memulai jalan pagi menuju Kebun Raya, ga lupa foto2 dulu di depan Tugu Kujang, Icon kota Bogor.
Kota Bogor zaman mama remaja dulu berbeda. Sekarang Kota Bogor terlihat cantik, bersih tertata, warganya juga mulai taat peraturan di jalan. Ada suara petugas yang menegur kalau terjadi pelanggaran. ‘Bapak pengendara motor berbaju merah, silakan mundur ke belakang garis putih.’ Begitu yang pernah saya dengar waktu ada warga melanggar garis pembatas di lampu merah.


Dari Hotel kearah pintu masuk Kebun Raya ditempuh selama 15 menit. Hari Sabtu pagi cukup ramai orang2 jalan pagi & naik sepeda. Ada jalur pemisah khusus pesepeda & pejalan kaki. Ga ada lagi pedagang kelinci & anak ayam warna-warni di sepanjang trotoar. Kami jalan pagi dengan nyaman di trotoar yang lebar & bersih.
Ada bangku2 taman dari beton tersedia untuk istirahat sejenak. Trotoar dilengkapi tempat sampah organik & anorganik setiap beberapa meter. Semoga saja fasilitas yang nyaman ini dapat terus terjaga.


Pintu masuk Kebun Raya terletak berseberangan dengan Lawang Surya Kencana. Jl.Surya Kencana adalah kawasan Pecinan & menjadi pusat perniagaan.

Pintu Masuk Menuju Loket Kebun Raya Bogor


Pintu masuk Kebun Raya terbagi dua. Pintu sebelah kiri khusus kendaraan roda 2 dan 4 sedangkan pejalan kaki masuk dari pintu sebelah kanan. Kami disambut ramah oleh beberapa petugas wanita memakai T-shirt warna krem lalu kami diarahkan ke tempat membeli tiket. Jangan lupa scan aplikasi Peduli Lindungi sebelum masuk.

Loket Masuk Kebun Raya Bogor
Pintu Masuk Loket Kebun Raya Bogor Dilihat dari Dalam.

Harga tiket masuk hari biasa Rp.15.000,- sedangkan weekend/hari libur Rp.25.000,- per orang. Tidak ada perbedaan harga dewasa maupun anak-anak. Keluar dari ruangan tempat beli tiket ada teras kecil berbentuk setengah lingkaran. Di bagian kanan & kiri teras ada tangga ke bawah. Hmm..pilih arah yang mana ya?

Balkon Setengah Lingkaran Dengan Tangga Turun di Sebelah Kanan & Kiri

Bersambung Bagian 2